MANNA, AmiraRiau.com – Saat azan zuhur berkumandang dari menara kecil Masjid At-Taubah, suasana di dalam Rutan Kelas IIB Manna berubah seketika. Tak ada lagi kesan dingin dari balik jeruji besi, yang terdengar hanyalah langkah kaki yang tenang menuju saf-saf shalat, Kamis (5/2/2026).
Bagi para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), momen ini bukan sekadar rutinitas harian. Shalat zuhur berjamaah adalah ruang bagi mereka untuk menanggalkan identitas masa lalu dan bersimpuh memohon ampunan di hadapan Sang Pencipta.
Di masjid yang bernama "At-Taubah" atau berarti "Pertobatan" ini, puluhan warga binaan berdiri bahu-membahu dalam satu saf yang sama. Mereka dipimpin langsung oleh petugas Rutan yang bertindak sebagai imam. Pemandangan ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia setara.
Kepala Rutan Kelas IIB Manna, Muhamad Nur, menjelaskan bahwa pembinaan spiritual adalah kunci utama bagi mereka untuk kembali diterima oleh masyarakat.
"Kegiatan ini bukan ritual biasa. Ini adalah upaya kami meningkatkan akhlak mereka. Kami ingin saat mereka keluar nanti, mereka sudah punya bekal batin untuk menjalani hidup yang lebih baik," ujar Muhamad Nur dengan penuh harap.
Kegiatan keagamaan di Rutan Manna dirancang untuk menciptakan keseimbangan spiritual dan sosial. Lewat kebiasaan shalat berjamaah, para warga binaan dilatih untuk disiplin, jujur pada diri sendiri, dan saling menghargai.
Muhamad Nur memastikan bahwa fasilitas ibadah ini dijaga agar tetap aman dan nyaman. Ia bahkan menginstruksikan seluruh jajarannya untuk terus mendukung kebutuhan spiritual warga binaan tanpa kecuali.
"Kami ingin mereka merasa didukung untuk berubah. Perubahan itu dimulai dari hati, dan masjid adalah tempat terbaik untuk memulainya," tambah Muhamad Nur.
Kini, setiap dahi yang bersujud di lantai Masjid At-Taubah membawa harapan yang sama: bahwa ketika pintu jeruji itu benar-benar terbuka nanti, mereka sudah siap menjadi manusia baru yang membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat di luar sana.***
Penulis: Erlan S