Oleh: Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
ADA ironi yang semakin mudah kita temukan dalam kehidupan modern, manusia bertambah usia, tetapi tidak selalu bertambah dewasa.
Rambut boleh memutih. Jabatan boleh meningkat. Pengalaman boleh menumpuk. Gelar akademik boleh bertambah. Namun, semua itu tidak otomatis membuat seseorang matang secara emosional.
Kita masih menemukan orang yang telah berusia senja tetapi mudah tersinggung, sulit menerima kritik, gemar menyalahkan orang lain, merasa paling benar, atau marah ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Tubuhnya hidup di masa kini, tetapi sebagian jiwanya mungkin masih tertinggal di masa lalu.
Karena itu, menua dan dewasa adalah dua hal yang berbeda. Menua adalah proses biologis yang tidak dapat dihindari. Dewasa adalah proses psikologis, moral, sosial, dan spiritual yang harus diperjuangkan.
Waktu dapat menambah usia, tetapi tidak otomatis menambah kebijaksanaan. Tidak semua yang lama hidup telah belajar dari kehidupan.
Ketika Jiwa Berhenti Bertumbuh
Dalam psikologi dikenal konsep fiksasi, yaitu keadaan ketika aspek tertentu dari perkembangan emosional seseorang seolah tertahan pada pengalaman atau konflik masa lalu yang belum selesai.
Seseorang terus bergerak maju secara kronologis, tetapi pola emosinya tidak ikut berkembang.
Akibatnya, ia menghadapi persoalan orang dewasa dengan cara yang sebenarnya sudah tidak relevan.
Ketika dikritik, ia menyerang.
Ketika gagal, ia mencari kambing hitam.
Ketika ditolak, ia merasa harga dirinya runtuh.
Ketika orang lain berhasil, ia merasa dirinya sedang dikalahkan.
Ketika kehilangan kekuasaan, ia mulai melihat musuh di mana-mana.
Di sinilah kita perlu memahami satu hal penting: usia tidak selalu sejalan dengan kematangan jiwa.
Fiksasi dapat berkaitan dengan pengalaman frustrasi, kecemasan, pola pengasuhan, kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi, atau pengalaman traumatis. Namun, trauma tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik atau peristiwa dramatis.
Trauma bisa lahir dari penghinaan yang berulang, penolakan, pengabaian, kehilangan, kegagalan, atau pengalaman pahit yang tidak pernah benar-benar diproses.
Luka yang tidak diselesaikan sering kali tidak hilang. Ia hanya berpindah tempat. Dari masa lalu ke masa kini. Dari satu hubungan ke hubungan berikutnya. Dari kesadaran ke bawah sadar.
Seseorang kemudian marah kepada orang yang sebenarnya tidak bersalah, hanya karena orang tersebut, tanpa disadari, menyentuh luka lama yang belum sembuh.
Freud Boleh Diperdebatkan, Masa Lalu Tetap Meninggalkan Jejak
Konsep fiksasi populer melalui teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud. Teori klasiknya menghubungkan perkembangan awal manusia dengan sejumlah fase yang, menurut Freud, dapat meninggalkan pengaruh terhadap kepribadian.
Psikologi modern tentu telah mengkritik dan merevisi banyak bagian dari teori Freud. Tidak semua gagasannya didukung oleh bukti ilmiah kontemporer.
Namun, ada satu gagasan yang tetap relevan untuk direnungkan: masa lalu dapat meninggalkan jejak terhadap cara manusia memandang dirinya, orang lain, dan dunia.
Freud boleh diperdebatkan. Tetapi manusia yang membawa luka masa lalu ke dalam kehidupannya hari ini adalah kenyataan.
Kita melihatnya dalam keluarga, lingkungan kerja, organisasi, bahkan ruang publik.
Ada orang yang tampak keras karena pernah merasa tidak berdaya.
Ada yang terlalu ingin mengendalikan karena masa lalunya penuh ketidakpastian.
Ada yang haus pujian karena pernah tumbuh dalam kekurangan penerimaan.
Ada pula yang sulit mempercayai orang lain karena pernah dikhianati.
Masalahnya bukan bahwa manusia memiliki masa lalu. Setiap manusia memilikinya. Masalah muncul ketika masa lalu terus memegang kendali atas masa kini.
Ketika Orang Dewasa Bereaksi Seperti Anak-Anak
Salah satu tanda ketidakmatangan emosional adalah ketika seseorang menghadapi tekanan sebagai orang dewasa, tetapi bereaksi dengan pola yang lebih primitif.
Ia menyangkal. Ia menghindar. Ia menyerang. Ia menyalahkan. Ia memanipulasi. Ia menghukum orang lain dengan sikap diam. Ia memutus hubungan hanya karena perbedaan pendapat.
Padahal, kedewasaan bukan berarti seseorang tidak pernah marah, kecewa, atau terluka. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan mengelola semua itu.
Orang yang matang tetap bisa marah, tetapi tidak menjadikan kemarahannya alasan untuk menghancurkan orang lain.
Ia dapat kecewa, tetapi tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk membenci dunia.
Ia memahami bahwa tidak setiap kritik adalah serangan.
Tidak setiap perbedaan adalah permusuhan.
Tidak setiap kekalahan adalah kehancuran.
Dan tidak setiap penolakan berarti dirinya tidak berharga.
Ukuran kedewasaan bukan seberapa keras seseorang berbicara, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan dirinya ketika memiliki kesempatan untuk meledak.
Pertanyaan besar dalam kehidupan manusia adalah: mengapa seseorang terus mengulang kesalahan yang sama, padahal ia mengetahui akibatnya?
Kita tahu kemarahan yang tidak terkendali merusak hubungan, tetapi tetap melakukannya.
Kita tahu sebuah hubungan tidak sehat, tetapi kembali ke pola yang sama.
Kita tahu suatu kebiasaan merusak diri, tetapi sulit meninggalkannya.
Masalah manusia sering kali bukan kekurangan informasi. Kita hidup di zaman yang hampir kelebihan informasi.
Persoalannya adalah: mengetahui tidak selalu berarti mampu berubah.
Seseorang dapat memahami teori kesabaran, tetapi gagal bersabar ketika diuji.
Ia dapat menasihati orang lain tentang kejujuran, tetapi sulit jujur kepada dirinya sendiri.
Ia tahu dendam merusak jiwa, tetapi tetap memeliharanya selama bertahun-tahun.
Mengapa?
Karena pola lama terasa familiar.
Bahkan penderitaan yang familiar terkadang terasa lebih aman daripada masa depan yang belum dikenal.
Inilah paradoks manusia: kita ingin berubah, tetapi takut meninggalkan identitas lama.
Kita ingin sembuh, tetapi tidak ingin membuka luka.
Kita ingin masa depan, tetapi tidak bersedia meninggalkan kebiasaan masa lalu.
Padahal, tidak ada penyembuhan tanpa keberanian melihat luka.
Ketika Trauma Menjadi Identitas
Ada orang yang pernah mengalami luka, lalu berusaha memahami dan menyembuhkannya.
Namun ada pula yang terlalu lama hidup bersama luka sehingga luka itu perlahan berubah menjadi identitas.
Ia tidak lagi sekadar berkata, “Saya pernah disakiti.”
Seluruh cara pandangnya terhadap kehidupan berubah menjadi, “Saya adalah korban.”
Di titik inilah trauma dapat berubah menjadi penjara. Masa lalu terus diceritakan. Kesalahan orang lain terus dihidupkan. Dendam terus dipelihara. Konflik lama dibawa ke kehidupan yang baru.
Padahal, masa lalu memang dapat menjelaskan siapa kita, tetapi tidak harus menentukan siapa kita selanjutnya.
Kita boleh mengingat luka, tetapi jangan menjadikan luka sebagai rumah.
Kita boleh belajar dari pengkhianatan, tetapi jangan menjadikan seluruh manusia sebagai tersangka.
Kita boleh kecewa kepada seseorang, tetapi jangan menghukum seluruh dunia atas kesalahan satu orang.
Kedewasaan adalah kemampuan membedakan antara pengalaman yang pernah terjadi dan kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini.
Luka Pribadi Bisa Menjadi Masalah Sosial
Persoalan jiwa tidak pernah sepenuhnya menjadi persoalan pribadi.
Seseorang yang tidak selesai dengan dirinya dapat membawa persoalan itu ke keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan ruang kekuasaan.
Orang tua yang tidak mampu mengelola kemarahan dapat mewariskan ketakutan kepada anak-anak.
Pemimpin yang haus pengakuan dapat menciptakan lingkungan kerja yang penuh kecemasan.
Tokoh yang tidak mampu menerima kritik dapat mematikan budaya dialog.
Seseorang yang tidak mampu berdamai dengan masa lalunya dapat menciptakan konflik baru bagi generasi berikutnya.
Luka yang tidak disembuhkan dapat diwariskan.
Tidak selalu melalui darah, tetapi melalui perilaku.
Anak-anak belajar dari cara orang tuanya marah.
Bawahan belajar dari cara pemimpinnya menggunakan kekuasaan.
Masyarakat belajar dari cara para tokohnya menghadapi perbedaan.
Karena itu, kedewasaan emosional bukan hanya urusan pribadi. Ia memiliki dampak sosial.
Satu jiwa yang tidak selesai dengan dirinya dapat melukai banyak orang.
Sebaliknya, satu jiwa yang mampu berdamai dengan dirinya dapat menjadi sumber ketenangan bagi lingkungan sekitarnya.
Teknologi Melaju, Kedewasaan Tertinggal
Ironi manusia modern semakin jelas di era digital.
Teknologi berkembang dengan kecepatan luar biasa, tetapi kedewasaan emosional manusia tidak selalu bergerak secepat itu.
Kita memiliki telepon pintar, tetapi belum tentu berpikir bijaksana.
Kita memiliki akses kepada jutaan informasi, tetapi mudah termakan provokasi.
Kita dapat berbicara kepada dunia dalam hitungan detik, tetapi sulit meminta maaf kepada orang yang tinggal serumah.
Media sosial bahkan dapat memperkuat persoalan ego.
Manusia mengejar pengakuan melalui jumlah pengikut, tanda suka, dan pujian. Harga diri perlahan bergantung pada perhatian.
Kritik dianggap serangan. Perbedaan pendapat dianggap kebencian.
Akhirnya, kita tidak lagi mencari kebenaran. Kita hanya mencari pembenaran.
Padahal, kedewasaan dimulai ketika manusia bersedia mendengar sesuatu yang tidak selalu ingin didengarnya.
Orang yang matang tidak hanya mencari mereka yang setuju dengannya. Ia juga bersedia belajar dari kritik.
Muhasabah itu berani melihat diri sendiri. Di sinilah psikologi bertemu dengan spiritualitas.
Psikologi mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap pikiran, emosi, dan perilaku. Islam mengajarkan muhasabah, yaitu keberanian untuk mengevaluasi diri.
Muhasabah bukan sekadar menghitung kesalahan. Muhasabah adalah keberanian untuk berhenti menyalahkan dunia dan mulai bertanya kepada diri sendiri: Apa yang harus saya perbaiki?
Allah SWT berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (Q.S. Al-Hasyr: 18).
Tidak ada masa depan yang sehat tanpa keberanian mengoreksi masa kini.
Tidak ada perubahan sejati tanpa kesediaan melihat masa lalu secara jujur.
Muhasabah mengajarkan manusia agar tidak terlalu sibuk menjadi hakim bagi orang lain, sementara lupa mengadili dirinya sendiri.
Berani Mengakui Kesalahan
Dalam Islam, salah satu konsep perubahan yang paling kuat adalah taubat.
Taubat bukan sekadar ucapan penyesalan. Taubat adalah keberanian untuk berbalik arah. Menyadari kesalahan. Mengakuinya. Menyesalinya. Berhenti melakukannya. Lalu berusaha memperbaiki jalan hidup.
Secara psikologis, perubahan pun dimulai dari pengakuan.
Tidak mungkin memperbaiki sesuatu yang terus kita sangkal.
Maka, salah satu kalimat paling dewasa yang dapat diucapkan manusia adalah:
“Saya pernah salah.”
Dan mungkin yang lebih sulit:
“Cara saya selama ini menghadapi masalah ternyata tidak selalu benar.”
Pengakuan bukan kelemahan. Pengakuan adalah pintu perubahan.
Yang berbahaya bukan manusia yang pernah salah. Yang berbahaya adalah manusia yang tidak lagi mampu menyadari kesalahannya.
Masyarakat kita masih sering menyederhanakan persoalan psikologis.
Orang yang terluka hanya diminta melupakan.
Orang yang cemas hanya diminta lebih kuat.
Orang yang mengalami persoalan emosional hanya disuruh tidak terlalu memikirkannya.
Nasihat dan agama tentu memiliki tempat penting dalam kehidupan.
Doa dapat menjadi kekuatan.
Ibadah dapat memberikan ketenangan.
Namun, spiritualitas tidak harus dipertentangkan dengan bantuan profesional.
Dalam kondisi tertentu, seseorang memang membutuhkan psikolog, konselor, atau psikoterapis untuk memahami akar persoalan dan pola emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Mencari bantuan profesional bukan tanda iman yang lemah. Bukan pula tanda seseorang kalah. Justru dapat menjadi bentuk keberanian dan tanggung jawab.
Sebab orang yang tidak menyembuhkan lukanya berpotensi melukai orang lain tanpa sengaja.
Pada akhirnya, kehidupan membawa setiap manusia kepada satu kepastian: waktu tidak berhenti.
Usia bertambah. Tenaga berkurang. Jabatan berakhir. Kekuasaan berpindah. Generasi berganti. Lalu kehidupan dunia pun selesai.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan semata-mata berapa lama kita hidup.
Tetapi:
Apa yang telah kita pelajari selama hidup?
Apakah usia membuat kita semakin bijaksana?
Apakah pengalaman membuat kita semakin rendah hati?
Apakah luka membuat kita semakin memahami penderitaan orang lain?
Apakah keberhasilan membuat kita semakin bersyukur?
Ataukah yang bertambah hanya angka usia?
Kedewasaan sejati bukan hanya kemampuan menghadapi dunia.
Kedewasaan adalah kemampuan menempatkan dunia secara proporsional. Memiliki tanpa diperbudak. Berkuasa tanpa sombong. Berilmu tanpa merasa paling tahu. Berbeda tanpa membenci. Terluka tanpa melukai. Dan menua tanpa berhenti bertumbuh. Menua adalah kepastian. Bertumbuh adalah ikhtiar. Dewasa adalah pilihan.
Jangan sampai kita menghabiskan puluhan tahun hanya untuk menjadi lebih tua tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi lebih dewasa.
Sebab suatu hari nanti, usia berhenti bertambah dan kesempatan memperbaiki diri pun berakhir.
Sebelum hari itu datang, mungkin ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
Selama ini, apakah saya benar-benar bertumbuh, atau saya hanya bertambah tua?
Karena tidak semua yang menua menjadi dewasa.
Namun selama manusia masih diberi waktu, selama kesadaran masih menyala, dan selama keberanian untuk berubah belum padam, selalu ada kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu, memperbaiki masa kini, dan menyiapkan masa depan.
Bukan hanya untuk hidup yang sementara di dunia, tetapi juga untuk kehidupan yang lebih panjang dan kekal di akhirat.***
(Dr. Adv. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Akademisi, Advokat, Pemerhati Kebijakan Publik dan Pendidikan Karakter, yang Alumni Program Doktoral Pendidikan Islam UIN Imam Bonjol Padang).