Oleh: Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H.
DUNIA berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Informasi berpindah dalam hitungan detik, media sosial membentuk opini publik, dan kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian pekerjaan yang dahulu sepenuhnya dilakukan manusia. Namun, di tengah kecanggihan itu, muncul pertanyaan sederhana tetapi mendasar: apakah kemajuan teknologi selalu diikuti kemajuan akhlak?
Pertanyaan tersebut membawa kita kembali kepada sosok Muhammad SAW. Lebih dari 14 abad lalu, sebelum menjadi Rasul, beliau telah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin—orang yang terpercaya. Gelar itu bukan hasil pencitraan, kampanye, atau algoritma. Ia lahir dari rekam jejak: kejujuran, amanah, konsistensi, dan keteladanan. Di sinilah relevansi Rasulullah SAW bagi manusia digital.
Ketika Algoritma Tidak Mengenal Akhlak
Hari ini seseorang dapat menjadi terkenal hanya melalui sebuah unggahan. Informasi yang belum terverifikasi dapat menjadi viral sebelum kebenaran sempat menjelaskannya. Algoritma cenderung mendorong konten yang menarik perhatian, sementara yang menarik perhatian belum tentu benar dan belum tentu baik.
Kita menghadapi paradoks: teknologi semakin cerdas, tetapi manusia belum tentu semakin bijaksana.
Algoritma mampu membaca kebiasaan, menghitung kecenderungan, bahkan memprediksi perilaku. Namun algoritma tidak memiliki hati nurani. Ia dapat menentukan apa yang populer, tetapi tidak menentukan apa yang bermoral.
Karena itu, manusia tidak boleh menyerahkan seluruh pertimbangan etik kepada mesin.
Algoritma boleh membantu keputusan, tetapi tidak boleh menggantikan hati nurani.
Dari Tabayyun ke Era Fact Checking
Al-Qur'an mengajarkan tabayyun: memeriksa informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Prinsip ini semakin penting dalam masyarakat digital.
Sebelum menekan tombol share, semestinya ada tiga pertanyaan: Apakah benar? Apakah bermanfaat? Apakah tidak menzalimi orang lain?
Jika belum jelas, menahan diri bukan berarti kalah. Justru itulah bentuk kedewasaan.
Di ruang digital, jempol memiliki konsekuensi sosial. Satu komentar dapat melukai seseorang. Satu unggahan dapat menghancurkan reputasi. Satu berita palsu dapat memecah masyarakat. Karena itu, tabayyun adalah rem moral bagi kecepatan teknologi.
Rasulullah SAW juga mengajarkan amanah. Dalam konteks kekinian, amanah tidak berhenti pada harta dan jabatan. Data pribadi, informasi, kewenangan digital, hingga kemampuan menggunakan kecerdasan buatan juga merupakan amanah.
Teknologi memberi manusia kekuasaan yang sangat besar. Dengan sebuah perangkat, seseorang dapat merekam, mengedit, memproduksi, dan menyebarkan informasi kepada jutaan orang.
Pertanyaannya bukan hanya “apa yang bisa dilakukan?”, melainkan “apa yang seharusnya dilakukan?”
Inilah wilayah yang tidak dapat diselesaikan oleh teknologi semata. Ia membutuhkan moral.
Sebab, teknologi tanpa etika hanya memperbesar kemampuan manusia; akhlaklah yang menentukan apakah kemampuan itu menjadi maslahat atau mudarat.
Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah
Al-Qur'an menegaskan bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswatun hasanah—teladan terbaik (Q.S. Al-Ahzab: 21).
Keteladanan itu tidak hanya berada di ruang ibadah. Ia hadir dalam kepemimpinan, perdagangan, keluarga, hubungan sosial, penyelesaian konflik, dan cara memperlakukan orang yang berbeda.
Karena itu, mencintai Rasulullah tidak cukup dengan memperbanyak pujian tentang beliau. Cinta harus menemukan bentuk dalam perilaku.
Jika Rasulullah adalah Al-Amin, umatnya harus menjadi manusia yang dapat dipercaya.
Jika beliau mengajarkan kejujuran, jangan jadikan media sosial sebagai ruang kebohongan.
Jika beliau mengajarkan kasih sayang, jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menghina.
Jika beliau mengajarkan tabayyun, jangan biarkan jempol menjadi mesin penyebar fitnah.
Dan jika beliau mengajarkan amanah, jangan gunakan teknologi untuk merugikan sesama.
Kemaslahatan sebagai Orientasi
Peradaban tidak cukup diukur dari kecepatan internet, kecanggihan perangkat, atau kemampuan kecerdasan buatan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kemajuan itu meningkatkan martabat manusia dan menghadirkan kemaslahatan.
Di sinilah keteladanan Rasulullah SAW menemukan relevansinya.
Teknologi seharusnya memperluas akses ilmu, bukan mempercepat kebodohan. Media sosial semestinya mempererat silaturahmi, bukan memperluas permusuhan. Kecerdasan buatan semestinya membantu manusia, bukan menjadi alasan untuk menghilangkan tanggung jawab moral.
Umat Islam karena itu tidak cukup menjadi melek digital. Kita harus menjadi beradab secara digital.
Sejarah peradaban selalu berubah. Surat menjadi pesan instan. Pasar tradisional berdampingan dengan marketplace. Mesin pencari berkembang menjadi kecerdasan buatan.
Namun kebutuhan manusia tetap sama: kejujuran, keadilan, kasih sayang, amanah, dan kebijaksanaan.
Itulah sebabnya keteladanan Rasulullah SAW tidak pernah menjadi usang.
Lebih dari 14 abad berlalu, dunia boleh berubah dari unta menjadi kendaraan listrik, dari pena menjadi layar, dari surat menjadi pesan digital. Tetapi Al-Amin tetap relevan sebagai kompas moral.
Tantangan terbesar era digital bukan sekadar menciptakan mesin yang semakin pintar, melainkan memastikan manusia tetap menjadi manusia yang berakhlak.
Kita boleh memasuki era algoritma. Kita boleh menggunakan kecerdasan buatan. Kita boleh menikmati kecepatan teknologi. Tetapi jangan sampai kecepatan informasi menghilangkan kehati-hatian, kebebasan digital menghapus adab, dan kecerdasan mesin mengalahkan kebijaksanaan manusia.
Jadilah Al-Amin di dunia digital: jujur ketika tidak ada yang melihat, amanah ketika memiliki kekuasaan, bijak ketika memiliki kesempatan untuk menyerang, dan bermanfaat ketika memiliki kemampuan untuk memengaruhi.
Sebab, teknologi boleh mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi akhlaklah yang menentukan ke mana kemanusiaan akan dibawa.***
(Dr. Asep Ajidin, S.Pd.I., S.H., M.H. Penulis; Ketua PD Persatuan Islam (PERSIS) Kota Pekanbaru dan Wakil Sekretaris Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI Provinsi Riau)