Oleh: Hasrul Sani Siregar, MA
DALAM beberapa pekan ini mantan perdana menteri Malaysia, Tun Mahathir Mohamad telah meramaikan pemberitaan di media masa khususnya di Malaysia tentang bencana di pulau sumatera khususnya bencana di Aceh, Indonesia. Tun Mahathir Mohamad dalam siaran media menyebut bahwa Aceh sebagai benteng ASEAN dan menyelamatkan Malaysia dalam bencana tersebut. Aceh berfungsi sebagai pelindung Malaysia dari bencana alam. Ketika Aceh dilanda banjir bandang pada akhir November yang lalu, Malaysia relatif aman dan tidak berdampak luas terhadap wilayah di Malaysia dan begitu juga waktu Tsunami tahun 2004 melanda Aceh, relatif di Semenanjung Malaysia tidak begitu terdampak yang luas akibat Tsunami tersebut. Oleh sebab itu, Aceh selama ini menjadi wilayah penyangga keselamatan kawasan dan Aceh merupakan benteng alami yang menahan dampak ekstrem samudera hindia. Tun Mahathir Mohamad menghimbau warga Malaysia untuk membantu Aceh dalam menghadapi musibah tersebut dan ikut prihatin dengan banjir tersebut.
Sebagai mana diketahui, Tun Mahathir Mohamad merupakan tokoh Malaysia yang beberapa kali melontarkan pernyataan yang cukup keras seperti pernyataannya yang menyebut Singapura pernah dimiliki oleh Johor dan negara bagian Johor harus menuntut agar Singapura dikembalikan ke Malaysia. Seharusnya Malaysia menuntut agar Pedra Branca atau Pulau Batu Puteh dikembalikan kepada Malaysia. Lahir pada 10 Juli 2025, Tun Mahathir Mohamad telah berusia 100 tahun lebih, namun di usia tersebut Tun Mahathir Mohamad masih sehat. Tun Mahathir Mohamad memerintah Malaysia sebagai Perdana Menteri dua kali, pertama dari tahun 1981 hingga tahun 2003 selama lebih kurang 22 tahun dan kedua pada tahun 2018 hingga tahun 2020.
Pada pilihanraya (pemilihan umum) ke-14 pada 9 Mei 2018 yang lalu, Tun Mahathir Mohamad kembali menjadi Perdana Menteri Malaysia untuk kedua kalinya setelah koalisi partainya yang menamakan diri sebagai koalisi Pakatan Harapan (PH) berhasil mengalahkan koalisi Barisan Nasional (BN) yang merupakan koalisi yang terdiri dari partai UMNO (United Malays National Organization) partai MIC (Malaysian Indian Congress) dan Partai MCA (Malaysian Chinese Association). Koalisi Barisan Nasional (BN) terdiri dari berbagai kaum (etnis) yang ada di Malaysia.
Tun Mahathir Mohamad dikenal sebagai pemimpin tangguh di masanya yang mana Malaysia dikenal sebagai negara yang masyarakatnya multi-kultural, multi-ras, multi-agama, dan multi-bahasa. Dalam bukunya yang fenomenal yaitu A Doctor in the House: The Memoirs of Tun Dr. Mahathir Mohamad bercerita tentang kepemimpinan dan kehidupan beliau sebagai seorang dokter. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya. Seorang pemimpin harus memperhatikan rakyatnya. Pemimpin itu harus berkemampuan untuk merasakan denyut jantung dan nadi bagi rakyatnya.
Memahami keresahan dan impian rakyat merupakan cara berpikir pemimpin untuk meraih kesejahteraan rakyatnya. Yang penting adalah apa yang harus dilakukan pemimpin terpilih untuk melaksanakan tanggung jawabnya terhadap rakyatnya, supaya mencapai kedudukan sebagai pemimpin nasional. Kepemimpinan nasional dapat terwujud ketika seorang pemimpin mampu merasakan apa yang dialami masyarakatnya. Memahami keresahan, impian, serta harapan rakyatnya yang akan membuat seseorang pemimpin tersebut bisa mencapai kepemimpinan nasional.
Terdapat beberapa hal yang menarik yang disampaikan oleh Tun Mahathir Mohamad yang membagi pengalamannya ketika menjadi Perdana Menteri Malaysia yaitu metode yang dilakukan beliau dengan menemukan titik permasalahan di pemerintahannya. Tun Mahathir Mohamad yang sebagai dokter, melihat dan mengamati suatu isu maupun masalah dari sudut pandang pengobatan. Beliau mengawali dengan penyelesaian masalah dengan cara mendiagnosa permasalahan yang diibaratkan sebagai penyakit yang menjangkit suatu negara beserta rakyatnya. Apa masalahnya dan bagaimana menangani permasalahan yang muncul tersebut. Setelah mengetahui masalah yang muncul, maka dicari solusi terhadap permasalahan yang ada tersebut.
Adakalanya permasalahan yang ada tersebut memerlukan terobosan yang cepat ditangani, jika tidak akan berdampak terhadap roda pemerintahan secara keseluruhannya. Seorang pemimpin harus memiliki keberanian untuk membuat keputusan dan tindakan tersebut meski dinilai pahit namun demi kepentingan mayoritas rakyat dan negaranya harus dilakukan. Tun Mahathir Mohamad menyebut, pemimpin negara yang baik haruslah memiliki empati terhadap kondisi rakyatnya dan mau memperjuangkan masa depan rakyatnya.***
(Hasrul Sani Siregar, MA. Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau)