Kemenangan Marwah dan Tradisi Asli Kuansing

I

Isman

Senin, 24 Agustus 2026 | 13:14 WIB

Kemenangan Marwah dan Tradisi Asli Kuansing

Oleh: Mardianto Manan Dt. Rajolelo Bangun

​PERTARUNGAN sengit di helat gelanggang Tepian Narosa menjelang magrib itu menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal, solidaritas, dan latihan berkesinambungan pemacu anak nagori tidak bisa dibeli dengan modal finansial semata. Menundukkan sang juara bertahan, yang diduga mengandalkan atlet sewaan dari luar daerah, memberikan pelajaran berharga: Pacu Jalur adalah tentang marwah, jiwa bergotong royong, serta nilai spiritual yang mengakar di Rantau Kuantan.

​Kemenangan ini membungkam prasangka bahwa atlet lokal kalah kelas dibanding atlet sewaan. Alam Cahayo Tuah Nagoghi, membuktikan bahwa kekompakan dayung yang lahir dari ikatan emosional se-kampung jauh lebih ampuh merobek arus Batang Kuantan, dibanding gabungan kekuatan fisik tanpa ikatan jiwa nan disewa dari atlit luar.

Kenapa Bisa Juara? 
​Keunggulan & Prestasi Jalur Alam Cahayo Tuah Nagoghi sepanjang yang saya telusuri adalah: Kedalaman Stamina & Sinkronisasi: Memiliki kekhasan kayuhan (kayuah) yang konsisten dari haluan hingga kemudi, menjaga laju kayuah tetap stabil meski menembus gelombang dan arus deras menjelang garis pancang finish.

Keutuhan Mental Anak Nagori: Dipagari oleh pemacu asli lokal yang bertanding demi membela nama baik desa dan kecamatan, menghasilkan daya juang pantang menyerah di detik-detik kritis.

Rekor Prestasi: Sukses merobohkan dominasi jalur-jalur raksasa dan mengukir sejarah baru sebagai sang jawara puncak (Juara 1) di gelanggang tradisional terbesar, Tepian Narosa Teluk Kuantan tahun 2026

​Kemenangan Alam Cahayo Tuah Nagoghi menjadi peringatan manis sekaligus tegas: tradisi Pacu Jalur akan tetap hidup dan berkibar bukan karena transaksi materi, melainkan karena kesucian adat dan kekuatan anak nagori.

Kemenangan ini menjadi peringatan tegas: tradisi Pacu Jalur akan tetap tegak berdiri bukan karena megahnya modal atau hebatnya atlet sewaan, melainkan karena kerendahan hati dan keutuhan ikatan anak nagori.

Insiden Pamer Tuak diatas Jalur
​Perilaku memamerkan tuak di atas jalur mencederai dua pilar utama masyarakat Kuantan Singingi:
​Sisi Adat dan Budaya Kuantan:

Masyarakat Kuantan memegang teguh filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Jalur adalah karya seni sakral yang diawali dengan tradisi mencari kayu, mendoa, hingga maelo jalur. Menodai jalur dengan minuman keras merusak tatanan kesantunan dan mencederai nilai kemuliaan tradisi yang dijaga berabad-abad.

​Memamerkan tuak di perhelatan adat bukan hanya melanggar hukum agama, tetapi juga mendatangkan hilangnya keberkahan dalam gelanggang yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi.

​Munculnya insiden oknum pemacu yang memamerkan minuman keras (tuak) di atas jalur sangat melukai hati Masyarakat Kuantan Singingi. Perilaku ini berdampak buruk dari dua sisi utama:

1. ​Sisi Adat dan Budaya Kuantan:
Masyarakat Kuantan Singingi memegang teguh filosofi "Adat Basondi Syarak, Syarak Basondi Kitabullah". Jalur bukanlah sekadar perahu balap, melainkan benda sakral yang diawali dengan tradisi mencari kayu, mendoa, hingga maelo jalur. Menodai jalur dengan perilaku tidak terpuji membongkar tatanan nilai kesantunan dan mencederai marwah tradisi yang dijaga berabad-abad.

2. ​Sisi Agama Islam:
Dalam ajaran Islam, minuman keras (khamr) merupakan induk dari segala keburukan (ummul khaba'ith). Memamerkan tuak di ruang publik—terutama dalam perhelatan budaya lokal—memicu degradasi moral dan berpotensi mendatangkan ketidakberkahan dalam gelanggang tempat masyarakat bersilaturahmi.

Lantas kenapa ada penacu jalur bangga dan pamer tuak diatas jalur nan sakral tersebut? Lantas bagaimana prosesnya dia masuk sebagai atlit luar? Sementara dari yang saya ketahui tahapan proses rekrutmen pemacu jalur punya proses nan panjang.

​Untuk memahami bagaimana oknum tak beradab bisa masuk ke dalam jalur, kita perlu melihat bagaimana proses rekrutmen pemacu berlangsung dalam tradisi Pacu Jalur:

​Seleksi Anak Nagori (Tradisional): 
Pengurus jalur memanggil pemuda-pemuda desa (anak kamanakan). Seleksi dilakukan berdasarkan kekuatan fisik, kedisiplinan, ketahanan mental, serta rekam jejak akhlak dan adab di masyarakat.

​Uji Coba Gelanggang & Latihan Rutin (Maelo): 
Para pemacu dilatih menyelaraskan irama kayuhan. Di sinilah dinilai kekompakan jiwa dan rasa saling percaya antar-pemacu.
​Perekrutan Atlet Impor/Rental (Praktik Modern):

Dalam beberapa kasus jalur yang mengejar kemenangan instan, pengurus atau pimpinan jalur membuka pintu bagi atlet luar (baik dari luar provinsi maupun cabang olahraga lain). Sering kali perekrutan ini hanya berpatokan pada kekuatan fisik dan keahlian mendayung semata, tanpa melalui proses penyaringan adab, pemahaman budaya lokal, maupun norma keagamaan Kuantan.

Kemenangan Harga Diri Kuantan
Kemenangan Jalur Alam Cahayo Tuah Nagoghi dari Sikakak, Kecamatan Cerenti, di gelanggang sakral Tepian Narosa Teluk Kuantan (Ahad, 23 Agustus 2026) bukan sekadar raihan piala dan piala bergilir biasa. Ini adalah kemenangan harga diri, tamparan keras bagi kesombongan, serta pembuktian tuntas atas marwah anak nagori di tanah kelahirannya sendiri.
​Kemenangan Marwah, Adab, dan Kerendahan Hati

​Di atas batang kuantan, berpacu bukan sekadar mendayung cepat, melainkan memegang teguh adab berpacu. Gelanggang Tepian Narosa tidak pernah ramah kepada mereka yang takabur, merasa paling kuat, pongah, dan sok hebat. Sikap jumawa hanya akan berujung pada kekalahan yang pahit. Jalur adalah benda sakral yang dinaiki dengan niat bersih dan kebersamaan.

Menjaga kesucian di atas jalur—baik kesucian niat, perilaku, maupun tindakan—adalah syarat mutlak yang diwariskan para leluhur.
​Sangat ironis dan melukai rasa kebudayaan ketika ada pemacu yang justru memamerkan tuak di atas jalur. Sebuah hal yang terasa lucu sekaligus menyedihkan; bagaimana mungkin sebuah jalur yang lahir dari desa di pinggir Sungai Batang Kuantan, yang dibentuk dari do'a dan gotong royong masyarakat setempat, justru disusupi perilaku yang sama sekali tidak tahu adab Kuantan? Lantas, siapa yang mengajak dan memberi ruang bagi oknum pamer tuak tersebut untuk bergabung di dalam jalur tersebut ? Kasus ini menjadi cerminan dangkalnya penjiwaan tradisi akibat terlalu fokus mengejar kemenangan instan.

"Tinggi dek dianjung, godang dek diambak.
Ingat peninggalan orang tua-tua dulu:
Bakato di bawah-bawah, mandi di hiliar-hiliar,
Jan pongah dek kokah, jan takobuar dek kuat,
Ayiar tonang jan disangko tak ba buayo." 

Pepatah petitih warisan orang tua-tua Kuantan di atas selalu mengingatkan kita untuk tetap rendah hati. Sekuat apa pun sebuah tim, jika meremehkan adab dan merusak kesucian tradisi, Sungai Kuantan punya caranya sendiri untuk merubuhkan kesombongan tersebut, semoga demikian sampai kapanpun, wassalam.

(Mardianto Manan Dt. Rajolelo Bangun)