Killdeer (Cerek Kernyut)

A

administrator

Jumat, 21 November 2025 | 00:00 WIB

Killdeer (Cerek Kernyut)

Oleh Isman Iriadi

KILLDEER adalah nama burung yang cukup terkenal di seluruh Amerika Utara dan sebagian Amerika Selatan bagian barat laut. Ukuran tubuhnya tidak terlalu besar, berbulu indah serta berkaki panjang. Di negara kita, sang Killdeer disebut Cerek Kernyut. Tinggal di area padang rumput, area berlumpur atau area sekitar pantai.

Kenapa Killdeer atau cerek Kernyut? Burung ini sangat ahli dalam berpura-pura, terutama ketika sedang melindungi sarang atau anak-anaknya dari ancaman. Dia akan berakting sedang terluka, seolah-olah tak berdaya dengan sayap patah, menggelepar penuh kesakitan sambil terus menceracau tak menentu!

Tingkah Killdeer sama halnya dengan mahluk hidup lainnya, mempunyai insting bertahan hidup (survival instinct) bawaan sejak lahir dan turun temurun. Tentu saja dalam rangka memaksimalkan peluang untuk bertahan hidup serta kelangsungan keturunannya kelak.

Dengan survival instinct demikian, Killdeer masih bisa bertahan hingga saat ini. Meskipun harus menyosor tanah, caranya tersebut terbukti ampuh untuk mengalihkan perhatian. Ketika dirasa sudah cukup dan tingkahnya sudah menarik perhatian predator menjauh dari sarangnya, saat itu pula tubuhnya kembali segar bugar dan terbang menjauh entah kemana dan tentu saja selamatlah.

Tingkah burung ini, kemudian banyak yang menganalogikannya terhadap tingkah  yang suka berpura-pura lemah, tidak tahu atau berada dalam situasi buruk untuk mendapatkan simpati, menghindari tanggung jawab atau bahkan mengalihkan perhatian orang lain dari kesalahan atau niat sebenarnya.

Menciptakan drama atau mengungkit masalah sepele untuk menutupi masalah yang lebih besar atau kesalahan serius yang mereka lakukan yang sebenarnya dengan berpura-pura demi keuntungan untuk melindungi diri dari konsekuensi perbuatan.

Pada saat ini, tingkah seperti halnya Cerek Kernyut nyaris terjadi pada semua lini. Berpura-pura lemah tak berdaya dengan kondisi yang sebenarnya tidaklah separah itu, selalu mengeluh untuk mengalihkan perhatian dari apa yang sebenarnya terjadi atau mereka lakukan di belakang.

Tak hanya pada pribadi seseorang, pada tatanan pemerintahan juga terjadi. Seperti misalnya penghapusan mata anggaran kerjasama publikasi media (cetak dan online) dengan dalih efisiensi.

Dalam pemberitaan yang berjudul KI Riau Kecam Kominfo: Penghapusan Anggaran Media adalah Efisiensi Sesat (AmiraRiau.com), komisioner KI Riau, H. Zufra Irwan SE, MM Cmed, SpAp, mengecam keras sikap Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kabupaten/kota se-Riau. Hal ini menyusul kabar penghapusan mata anggaran kerjasama publikasi media (cetak dan online) dengan dalih efisiensi.

"Kalau alasan efisiensi, lalu kerjasama media dihapus, artinya sesat pemahaman dalam menyusun APBD," tegas Zufra Irwan, yang juga menjabat Ketua Dewan Kehormatan PWI Riau.

Menurut Zufra, penghapusan mata anggaran kerjasama media, yang sudah bertahun-tahun ada, sama saja dengan kepala daerah mengajak masyarakat kembali masuk kepada era kegelapan masa lalu—serba tertutup dan serba rahasia.

Zufra mengkritik keras paradoks anggaran ini: "Anggaran publikasi seminim mungkin. Lalu, anggaran makan minum pejabat di bagian umum misalnya atau anggaran pimpinan makin bengkak, kebutuhan rumah tangga pejabat, nauzubillah, anggaran yang lain dihazab, manusiawikah pimpinan yang begitu".

Tapi ada pula 'tukang' adu. Jualannya kejelekan orang lain meskipun dia tahu persis bahwa korbannya adalah konco pelangkin. Kepada orang yang pertama, disampaikannya semua kejelekan atau yang tidak dia tak suka terhadap orang kedua dengan gaya sangat meyakinkan, seolah hanya dia yang terbaik dan paling sempurna. Lalu tanpa sadar (mungkin), kepada orang kedua, hal yang sama juga dilakukan dan  ditebarkan juga kejelekan orang pertama.

Tukang Adu ini tentu saja tidak sama dengan tingkah 'Killdeer' meskipun  keduanya sama-sama tidak elok. Hidup Killdeer alias Cerek Kernyut!***

(Isman Iriadi. Penulis; Wartawan AmiraRiau.com)