Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

A

Alseptri Ady

Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:02 WIB

Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

JAKARTA, AmiraRiau.com - Nilai tukar rupiah kian tertekan dan nyaris menyentuh Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia menjadi sejumlah faktor yang membebani mata uang Garuda.

Mengacu data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.184 per USD pada pukul 15.21 WIB. Posisi tersebut melemah 28 poin atau 0,15 persen.

Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari perkembangan global dan kondisi pasar keuangan domestik. 
Konflik Timur Tengah dan Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan.

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas USD115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," jelasnya, Rabu, (28/10/ 2026).

Selain itu, kontraksi pada mata uang Garuda itu juga disebabkan sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan USD dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. 

"Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi. Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," tuturnya.

Rupiah Melemah 1,15% Secara Bulanan

Meski begitu, ia menyampaikan secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026.

Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. 

Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya," katanya.***

Editor: Alseptri Ady